Kamis, 07 Februari 2013

PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH

I.                   PENGANTAR
Suatu sekolah dapat memberikan pelayanan bimbingan dalam beberapa lama tanpa membuat suatu program bimbingan. Umpamanya bila pada sekolah itu hanya memiliki seorang ahli bimbingan sedangkan guru bidang studi tidak ikut terlibat didalamnya, disini tidak nampak adanya suatu tim bimbingan. Cara kerja seperti diatas bisa dilaksanakan akan tetapi tidak memiliki dampak yang positif, karena bimbingan yang paling berhasil apabila dilakukan oleh tim khusus. Di dalam suatu team kerja bimbingan para anggota akan dapat saling membantu, tolong-menolong, bertukar pikiran, pengalaman dan bekerjasama. Untuk lebih jelasnya Dra. Aryatmi Siswoharjono, MA. Direktur pusat bimbingan/Guidance & Counceling Center Universitas Satya Wacana, Salatiga, (1974), mengemukakan
            “Pemberian bimbingan memang dapat dilakukan secara insidentil bilamana seorang guru atau pembimbing menghadapi anak yang bermasalah merasa bahwa anak itu perlu ditolong, pembimbing bertindak menolong. Jika persoalan anak sudah dipecahkan, tugas bimbingan dianggap selesai, sampai datang saat pembimbing menemui lagi suatu kasus yang menarik perhatian untuk ditolong.

            Cara bekerja macam ini, yaitu tanpa perancanaan dan program nampaknya praktis dan simple (sederhana), tetapi mempunyai banyak kelemahan.
Pertama : pelayanan bimbingan itu tidak direncanakan, hingga kurang pemikiran yang masak dan sering kurang dapat dipertanggungjawabkan.
Kedua     : tidak ada kontinyuitas dalam pelayanan.
Ketiga  : sukar untuk mengevaluasi kerja yang telah dilakukan. Juga kurang atau tidak direncanakan perkembangan, peningkatan mutu; sedang pengecekan apakah pelayanan betul-betul relevan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada, akan lebih sukar dilakukan.
Keempat: apalagi kalau obyek pelayanan dan subyek yang dilayani meliputi banyak orang, maka adanya program kerja sangat urgen, agar tidak ada anak-anak yang betul-betul memerlukan pelayanan terlewati oleh perhatian perseorangan yang diberikan secara insidentil.
Kelima : dengan disusun program kerja, dapat ditentukan tingkat prioritas dari masalah dan kebutuhan yang perlu dilayani, prioritas penggunaan tenaga atau kekuatan atau budget yang ada pada umumnya (keadaan di Indonesia) cukup, kalau tidak sangat terbatas. Dengan membuat program kerja akan lebih baik, kebutuhan dapat dilayani sebaik mungkin, tenaga dan fasilitas lain dapat dimanfaatkan seefisien mungkin.”
            Dengan demikian penyusunan program Bimbingan di sekolah memegang peranan penting dalam rangka keberhasilan pelaksanaan pelayanan bimbingan disekolah.
II.                PEMBAHASAN
1.      CIRI-CIRI PROGRAM BIMBINGAN YANG BAIK
Program bimbingan dapat dikatakan baik jika suatu bentuk program bimbingan apabila dilaksanakan di sekolah memiliki efisiensi dan efektifitas yang optimal. Sehubungan dengan ini, Frank W. Miller dalam bukunya : “Guidance; Principles and Services,” (1961), mengemukakan sebagai berikut :
1)      Program bimbingan itu hendaknya dikembangkan secara berangsur-angsur atau tahap demi tahap dengan melibatkan semua staf sekolah dalam perencanaannya.
2)      Program bimbingan itu itu harus memiliki tujuan yang ideal dan realistis dalam perencanaaannya.
3)      Program bimbingan itu hendaknya mencerminkan komunikasi yang kontinyu antara semua anggota staf sekolah yang bersangkutan.
4)      Program bimbingan itu hendaknya menyediakan atau memiliki fasilitas yang diperlukan
5)      Program bimbingan itu hendaknya disusun sesuai dengan program pendidikan dan pengajaran di sekolah yang bersangkutan.
6)      Program bimbingan hendaknya memberikan pelayanan kepada semua murid.
7)      Program bimbingan hendaknya menunjukan peranan yang penting dalam menghubungkan dan mengintegrasikan sekolah dengan masyarakat.
8)      Program bimbingan hendaknya memberikan kesempatan untuk melaksanakan penilaian terhadap diri sendiri.
9)      Program bimbingan hendaknya menjamin keseimbangan pelayanan bimbingan dalam hal
a.       Pelayanan kelompok dan individual.
b.      Pelayanan yang diberikan oleh berbagai jenis petugas bimbingan
c.       Studi individual dan penyuluhan individual.
d.      Penggunaan alat pengukur atau tehnik alat pengumpul data yang obyektif dan subyektif.
e.       Pemberian jenis-jenis bimbingan.
f.        Pemberian penyuluhan secara umum dan penyuluhan khusus
g.       Pemberian bimbingan tentang berbagai program sekolah.
h.      Penggunaaan sumber-sumber didalam sekolah dan diluar sekolah yang bersangkutan.
i.        Kebutuhan individual dan kebutuhan masyarakat.
j.        Kesempatan untuk berfikir, merasakan dan berbuat.

2.      PENYUSUNAN PRORAM BIMBINGAN
Untuk menyusun suatu program bimbingan ada beberapa halyang perlu dipertimbangkan, diantaranya :
1)      Susunlah program bimbingan yang relevan dengan kebutuhan bimbingan di sekolah. Karena dengan program yang relevan dengan kebutuhan ini, akan dapat berfungsi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu perlu diadakan inventarisasi masalah dan kebutuhan anak di sekolah. Kemudian untuk selanjutnya ditentukan prioritas penanganan masalah atau kebutuhan yang akan dilayani.
2)      Mempertimbangkan sifat-sifat khas sekolah, yaitu : jenis sekolah, ukuran sekolah, sifat atau tujuan sekolah, guru-guru (perhatian, kesibukan, dan kemampuan), murid-murid dengan berbagai persoalan, seikap dan sikap. Lingkungan tempat sekolah juga sangat menentukan sifat masalah dan kebutuhannya, umpamanya sekolah di kota besar, di desa, di lingkungan orang berada atau miskin.
3)      Hendaknya diadakan inventarisasi berbagai macam fasilitas yang ada, termasuk didalamnya petugas bimbingan yang telah ada sebagai pelaksanaan program bimbingan, ruangan yang telah tersedia dan dapat dipergunakan da kemungkinan untuk bisa dikembangkan, dana yang tersedia dan berbagai peralatan yang akan dipergunakan untuk memperlancar jalannya layanan bimbingan disekolah.
4)      Hendaknya ditentukan program kerja yang terperinci dan sistimatis dalam program bimbingan disekolah  berdasarkan masalah-masalah yang secara mendesak harus ditangani. Program kerja harus memberi jawab atas permasalahan atau berbagai kebutuhan yang ada.
5)      Hendaknya ditentukan personalia, pembagian tugas dan tanggung jawab yang merata dengan mempertimbangkan berbagai faktor yaitu : kemampuan, minat, kesempatan dan bakat yang dimiliki oleh  oleh staf sekolah yang ada.
6)      Menentukan organisasi termasuk didalamnya ialah: cara kerja, dan kerjasama dalam mewujudkan program bimbingan, cara berfungsinya team atau personalia, hirarkinya (hubungan dengan petugas-petugas lainnya). Dalam hal ini harus di ingat bahwa bentuk organisasi atau pola organisasi yang di pilih harus disesuaikan dengan kondisi yang ada di sekolah bersangkutan  (tenaga yang tersedia, potensi-potensi/kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh petugas. Semuanya ini berpulang kepada efesiensi kerja untuk mencapai suatu tujuan.
7)      Hendaknya diadakan evaluasi program bimbingan yang digunakan untuk mengecek seberapa jauh rencana dan pengaturan kerja itu telah dapat dilaksanakaan, dan seberapa jauh pula dari program kerja telah dapat di realisir. Ditinjau pula relevansi hasil kerja, efisiensi dan kelancaran kerja, dari berbagai masalah yang hendak dilayani, melihat pula berbagai kelemahan yang ada supaya dapat mengadakan berbagai macam perubaha, melengkapi program bimbingan berikutnya. Maka dari itu usaha untuk membuat suatu program bimbingan mutlak diperlukan kegiatan evaluasi.
Dalam penyusunan program bimbingan berikutnya. Maka dari itu usaha untuk membuat suatu program bimbingan mutlak diperlukan kegiatan evaluasi.
1)      Tahap persiapan
Dalam persiapan kegiatan yang dilakukan adalah melalui survei untuk menginventarisasi tujuan, kebutuhan dan kemampuan sekolah serta kesiapan sekolah besangkutan untuk melaksanakan program bimbingan. Tahap ini mempunyai arti yang penting untuk menarik perhatian dalam kegiatan bimbingan, menentukan titik tolak program, dan memelihara suasana psikologis yang menguntungkan. Karena semua pihak yang bersangkutan terlibat didalamnya dan ikut berpartisipasi sejak awal.
2)      Pertemuan-pertemuan pemulaan
Tujuan utama dari pertemuan-pertemuan permulaan adalah untuk menanamkan pengertian bagi para peserta tentang tujuan dari program bimbingan di sekolah. Pertemuan-pertemuan ini melibatkan petugas-petugas yang berminat dan tertarik serta memiliki kemampuan dalam bidang bimbingan dan penyuluhan.
3)      Pembentukan panitia sementara
Pembentukan panitia sementara adalah bertujuan untuk merumuskan program bimbingan. Tugas-tugas dari panitia sementara ialah
a.       Menentukan tujuan program bimbingan di sekolah.
b.      Mempersiapkan bagan organisasi dari program bimbingan.
c.       Membuat kerangka dasar dari program bimbingan.
4)      Pembentukan Panitia Penyelenggara Program
Panitia penyelenggara Program mempunyai tugas utama.
a.       Mempersiapkan program testing.
b.      Mempersiapkan dan melaksanakan sistem pencatatan.
c.       Mempersiapkan dan melaksanakan latihan bagi para pelaksana program bimbingan.
III.             PENUTUP
Dengan adanya program bimbingan dan penyuluhan di sekolah-sekolah, diharapkan membawa beberapa keuntungan yang akan membantu proses belajar dan mengajar di sekolah, sehingga semua target yang diharapkan dapat tercapai dengan maksimal.
Namun demikian, masih harus disadari sepenuhnya bahwa tujuan yang selama ini diimpikan dan diinginkan masih jauh dari target. Setidaknya perkembangan dalam pengadaan proses bimbingan ini dapat terus menuju arah perubahan yang lebih baik.

IV.              REFERENSI
Ketut Sukardi., Drs Dewa., Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Usaha Nasional, Surabaya, 1983.
Koestoer Partowisastro. , Drs H. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-Sekolah, Jilid I dan II Penerbit Erlangga, Jakarta, 1982.
Prayitno. , Drs., Pelayanan Bimbingan di Sekolah, Penerbit Ghalia Indonesia, Cetakan Ke-3, Jakarta, 1997.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar